2008
24
Mar

Kecantikan Yang Dipertanggung-jawabkan

Beberapa tahun yang lalu negeri ini sempat dihebohkan oleh lukisan telanjang artis tanah air yang dipamerkan di sebuah galeri. Maka ramailah infotainment menayangkan beritanya berulang-ulang setiap hari. Di salah satu tayangannya, si artis model lukisan itu ditanya alasan dia bersedia dilukis dengan pose demikian. Dan jawabannya adalah ‘seni’. Ya! S-E-N-I. Dia merasa bahwa dirinya dianugrahi sebuah keindahan fisik. Adalah sebuah keharusan baginya untuk berbagi keindahan itu dengan banyak orang sebagai ungkapan rasa syukurnya.

Hhmmm….. Sebuah pemikiran yang ‘unik’. Tapi celakanya, pemikiran ‘unik’ itu ternyata ada di benak banyak wanita. Jutaan eksemplar majalah pria dewasa menampilkan siluet-siluet itu dengan fulgarnya. Lalu siapa yang harus dipersalahkan, wanita yang mau berpose demikian atau pria yang doyan memelototinya ?

Tdak… Saya tidak sedang menghakimi. Saya hanya ingin menyoroti bagaimana para wanita itu mempertanggung-jawabkan kecantikannya. Melihat mereka tampil sedemikian seolah kecantikan itu sebuah kemutlakan bagi mereka, membuat saya menahan nafas. Entah mereka lupa ataukah memang tidak menyadari bahwa kecantikan itu sesungguhnya bukanlah miliknya, melainkan milik-Nya. Mereka hanya titipi sementara. Dan sewaktu-waktu Dia berkehandak, maka sirnalah segala keindahan yang dibangga-banggakan. Ketika itu terjadi, masihkah mereka mampu tertawa dan berkata, “hei…look at me !”

Dan apakah mereka juga telah menjadi amnesia bahwa kelak akan ada saat dimana segala apa yang dititipkan-Nya kepada kita akan dipertanggung-jawabkan. Lalu ketika nanti ditanya, “Kau gunakan untuk apa kecantikanmu?”. Mereka pun menjawab, “Ya untuk dipamerkan”. Hi-hi-hi….. Saya pastikan saya akan tertawa. Bagaimana bisa mereka memamerkan sesuatu yang sejatinya bukan milik mereka. Lucu sekali !

Semoga saja, rekan-rekan yang membaca tulisan ini menjadi lebih peduli dalam mempertanggung-jawabkan kecantikannya. Percayalah… Dengan kita merasa bahwa ini hanya sebuah titipan, maka kita akan menjadi lebih hati-hati dalam menjaga dan menggunakannya untuk hal yang tepat.

2008
18
Mar

Ayat Ayat Cinta (Kecantikan Sejati ?)

Saat ini ranah bumi Indonesia sedang gempar-gemparnya membicarakan tentang sebuah film apik yang diangkat dari sebuah novel best seller berjudul sama, yakni ‘Ayat Ayat Cinta’. Secara garis besar film ini bertutur tentang cinta segi lima (satu pria dicintai empat wanita).

Tersebutlah Fahri, sang jejaka idaman. Dikisahkan Fahri tengah menimba ilmu di negeri piramida, Mesir. Dia dicintai oleh Noura, gadis malang yang dia tolong dari kekejaman orang tua angkatnya. Kemudian Nurul, teman sesama aktifis kampus dan sama2 dari Indonesia. Ada juga Maria, gadis kristen koptik yang memendam cinta sangat dalam kepada Fahri. Dan Aisyah, gadis blesteran Jerman yang begitu cerdas serta taat beragama. Dua wanita terakhir inilah yang kelak menjadi istri sah fahri.

Untuk cerita lengkapnya anda bisa tonton filmnya yang sedang tayang di hampir semua bioskop yang ada di seantero negeri ini. Yah…sangat populer memang film ini. Namun yang ingin saya soroti disini bukanlah jalan ceritanya, teknis pembuatan filmnya atau pun karakter pemainnya. Karena itu sama sekali bukan bidang saya. Akan lebih tepat jika para sineas yang berkomentar mengenai hal itu.

Dalam hal ini saya hanya ingin mengulas seputar ‘kecantikan‘nya. Karena memang inilah bidang saya. ‘Kecantikan‘ yang saya maksud disini lebih terfokuskan pada sosok Aisyah dan Maria. Kedua istri Fahri yang sangat indah raga dan perangainya. Mereka berdua digambarkan memiliki kecantikan alami yang menakjubkan. Keduanya berkulit bersih mulus, tampak benar-benar terawat. Kecantikan ragawi itu ditunjang dengan personality yang memukau. Aisyah dengan kesantunannya, kecerdasannya serta kekuatan cintanya yang membawa pengorbanan besar bagi cintanya kepada Fahri. Lalu Maria, Keceriaannya mewarnai hari-hari Fahri dengan indah. Ketulusan hati Maria memberikan kesan mendalam bagi para penggemar film ini.

Kedua gambaran wanita jelita ini memang patut kita renungkan untuk kemudian diteladani. Sekali pun mereka terlahir dengan karunia raga serta wajah yang begitu indah, namun kebesaran jiwa merekalah yang justru memancarkan aura memikat. Kekuatan hati untuk berbagi cinta dengan tetap saling menghormati, tentulah sebuah hal yang tidak mudah untuk mereka jalani. Tetapi toh mereka tetap menjalaninya secara dewasa. Tanpa iri, dendam apalagi saling menjatuhkan. Mereka justru saling menyayangi layaknya saudara.

Oh…betapa kita merindukan ‘Bidadari’ ini menjelma nyata. Bukan hanya ada dalam tayangan roman drama film semata. Akankah kita mampu mengejawantah-kan mereka ke dalam pribadi kita? Sehingga kita tidak hanya sibuk mengurusi kecantikan luar saja. Tetapi juga menempa diri untuk terus-menerus membersihkan hati. Karena kecantikan sejati terpancarnya hanyalah dari dalam HATI……..

2008
01
Mar

CITRA DIRI

Hari itu tanggal 31 Januari 2008 jam 10 pagi. Saya tengah menonton satu acara TV favorit saya, yaitu Oprah Winfrey Show yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Kebetulan topic yang dibahas hari itu adalah ‘Citra Diri’. Hari itu guest star yang diundang Oprah adalah seorang gadis remaja Amerika bernama Kiri Davis. Dia telah membuat penelitian mengenai citra diri yang hasilnya sangat mencengangkan.

Ms. Davis mewawancarai beberapa bocah kulit hitam berusia sekitar 5-8 th. Dengan asumsi bahwa anak seumuran itu akan berbicara jujur. Ketika itu dia memberi bocah-bocah tersebut 2 buah boneka. Satu boneka kulit putih dan satu boneka kulit hitam. Kemudian dia bertanya kepada mereka mana boneka yang bagus, mereka mengangkat boneka kulit putih. Dan saat ditanya kenapa, jawaban mereka adalah karena boneka itu putih. Sedangkan ketika ditanya mana boneka yang jelek, mereka mengangkat boneka kulit hitam. Dan saat ditanya mengapa, jawaban mereka adalah karena boneka itu hitam. Lalu mereka ditanya kembali : “Mana yang mirip denganmu ?” Mereka mengangkat boneka yang berkulit hitam, lalu menunduk dengan ekspresi sedih.

Melihat adegan itu hati saya miris. Sungguh sebuah ironi yang menyakitkan melihat manusia-manusia itu malu atas keadaan dirinya. Kemudian saat belum hilang kekagetan saya akan penelitian itu, Oprah menambahkan bahwa 50 tahun yang lalu penelitian seperti itu sudah pernah dilakukan. Dan hasilnya sama persis! Kenyataan itu membuktikan bahwa sejak 50 tahun yang lalu hingga hari ini, keadaan citra diri warga kulit hitam tidak berubah. Bahkan Oprah juga bercerita, ketika dia berkunjung ke sekolah yang dia bangun untuk anak-anak kulit hitam di Afrika, dia mendapati anak-anak itu bermain dengan bonekanya masing-masing. Dan celakanya, boneka itu pun berkulit putih. Oprah mengaku terpukul melihat hal itu. Dia langsung memerintahkan mengambil semua boneka dari anak-anak itu dan menggantinya dengan boneka kulit hitam. Melihat itu saya bergumam sendiri, “Setuju Oprah ! Mereka harus belajar untuk bangga menjadi dirinya sendiri.”

Lebih mencengangkan lagi, ketika saya iseng mengetikkan keyword pada google tentang ‘kanker kulit’. Hasilnya, ada sebuah situs yang memuat suatu data bahwa di Nairobi setiap tahunnya terdapat sekitar satu juta wanita yang menderita penyakit kanker kulit akibat dari penggunaan kosmetik pemutih atau whitening. Wow……….Luar biasa, angka yang fantastis !

Saya jadi menyadari bahwa selama ini kita telah dijejali dengan dogma-dogma yang menyesatkan. Entah siapa yang memulai membangun paradigma berpikir manusia seperti ini. Bahwa cantik sangat identik dengan putih. Jika dan hanya jika kita putih, maka kita berhak menyandang predikat ‘cantik’. Seolah putih adalah syarat paling mutlak, yang menduduki peringkat paling wahid untuk bisa dikatakan cantik. Jika kulit kita tidak putih, maka cukuplah predikat ‘manis’ yang layak untuk kita. Dan entah mengapa, kata ‘manis’ seolah berada di tingkatan yang lebih rendah dibandingkan kata ‘cantik’.

Saya juga sering mendengar jika seseorang bertanya, “Hei, apa dia cantik ? Dia putih ?” Seakan ‘cantik’ dan ‘putih’ adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Saya bicara seperti ini bukan berarti saya sentiment terhadap mereka yang berkulit putih. Sama sekali tidak ! Saya tidak sedang bicara tentang rasial. Saya hanya merasa muak dengan keadaan ini. Betapa banyaknya iklan tentang produk pemutih kulit yang menjanjikan putih dengan cepat. Bahkan belakangan ada salah satu merk kosmetik yang berani menjanjikan putih dalam 7 hari. Saya berteriak tertahan, MEREKA GILA !!! Ini paradigma yang menyesatkan. Apa mereka tidak sadar bahwa itu sama dengan membunuh para ‘wanita lugu’ itu perlahan-lahan. Mereka telah menyebarkan virus mematikan. Benar-benar mematikan. Bukan hanya secara fisik (kanker kulit) melainkan juga secara psikis. Otak wanita-wanita di seluruh dunia ini telah dicuci. Dan dijejali oleh paradigma-paradigma yang keliru tentang hakikat dari suatu kata yang bernama ‘KECANTIKAN’.

Karena itulah, semoga sedikit tulisan ini mampu mengetuk nurani siapa pun yang membacanya. Mengenai apakah hatinya akan dibuka atau dibiarkannya tertutup terhadap kenyataan ini, maka itu adalah pilihannya……. Ingat, hidup adalah pilihan. ‘Your choise is your world. And your world is your risk’. Itulah yang selalu saya katakan pada diri saya sendiri jika berada di persimpangan untuk memilih.

Dan detik ini, sebelum mata anda beranjak dari halaman ini, saya mengulurkan tangan saya untuk anda. Jika anda menyambut uluran tangan saya, maka kita akan bersama-sama untuk membangun citra diri kita kembali sebagai makhluk yang tercipta indah. Kemudian bermula dari kita, maka satu per satu pribadi demi pribadi akan bertumbuh citra dirinya.

Jika anda memutuskan bergandengan tangan dengan saya, silakan tuliskan dukungan anda pada kolom ‘comment’ yang tersedia. Lalu kabarkan pada orang-orang di sekitar anda mengenai weblog ini. Dan kita akan bersatu memperjuangkan ‘CITRA DIRI’ kita.

2008
29
Feb

AKULAH KEAJAIBAN

Aku tertawa geli melihat tingkah polah mereka. Sekelompok dara belia yang sibuk mengamati tubuhnya. Ada yang bilang dada-nya terlalu kecil, pinggulnya kebesaran, kakinya keras seperti pemain bola. Ada juga yang merengek manja minta dikasi tahu produk pemutih kulit paling manjur. Ada yang sibuk nelpon-nelpon klinik kecantikan buat sedot lemak agar tubuhnya langsing bak model-model iklan.

“Hmmm…dasar wanita!” pikirku, seolah aku lupa bahwa aku pun wanita. Hampir setiap kali aku berkumpul dengan wanita-wanita mana pun, selalu saja yang dibicarakan adalah bagaimana mengubah tubuh mereka menjadi begini dan begitu. Bagaimana agar kulitnya lebih putih, tubuhnya jadi seksi, rambutnya jadi lurus dan bla-bla-bla dan bla-bla-bla.

Bukannya aku tidak setuju dengan mereka. Aku cuma tidak sepenuhnya sepaham. Bagiku setiap dari kita tercipta istimewa dengan bentuknya masing-masing. Aku pun tidak tinggi, tidak putih, tidak langsing, dan…. Ya pokoknya tidak sesuai dengan kategori ‘cantik’ yang mereka kejar. Tapi aku tidak akan menjadi bodoh dengan mengubah tubuhku di bagian ini dan di bagian itu. Segalanya sudah tercipta dengan bentuk yang paling sesuai untukku. Adalah sebuah kekonyolan jika aku mengotak-atiknya seperti aku mengotak-atik si Cindy boneka Barbie-ku.

Tapi bukan berarti lantas aku biarkan saja tubuhku bertambah melar, kulitku makin menghitam atau rambutku jadi kusut. Aku bahkan belakangan ini makin rajin facial ke klinik skalian creambath di salon. Rajin berlulur, peeling bahkan sampai kompres mata. Tapi aku bukan melakukannya semata demi estetika agar aku dibilang cantik. Tapi jauh melebihi itu, aku melakukannya sebagai manifestasi dari rasa syukurku pada Dia yang menciptaku dengan segala keindahan-Nya.

Selain itu, aku merawat tubuhku lebih karena motivasi kesehatan. Bayangkan saja, aku tinggal di kota yang dikelilingi asap pabrik, debu jalan, air limbah industri dan beribu kendaraan bermotor yang tidak ada lelahnya membuang gas berbahaya. Entah sudah berapa juta molekul dari senyawa beracun itu yang menempel di kulit tubuh, wajah dan rambutku setiap hari. Entah sudah berapa banyak yang terserap ke dalam pori-pori. Entah apa yang sudah toksin-toksin itu lakukan terhadap kulitku. Iiiihhhh……membayangkannya saja aku sudah ngeri.

Karena itu aku setuju dengan para wanita itu dalam hal pentingnya merawat tubuh. Tetapi jika untuk mengubahnya…….TIDAK! Karena aku terlahir sebagai sebuah keajaiban. Dari tiada menjadi ada. Dari kecil menjadi besar. Dari anak-anak menjadi dewasa. Dan dari ada menjadi tiada kembali. Segalanya terjadi sebagai sebuah mukjizat kehidupan. Karenanya aku percaya, AKULAH KEAJAIBAN……..!!!

2008
28
Feb

CANTIKKAH AKU? (Sebuah Jeritan Hati)

Itu dia Rania. Kembang kampus itu berjalan anggun di sepanjang koridor yang dipenuhi para jejaka yang mengelu-elukannya. Senyumnya yang malu-malu saat disapa membuat dia makin menggemaskan. Tinggi semampai, langsing, putih mulus, rambut lurus panjang tergerai, hidung mancung dan matanya itu, benar-benar keindahan yang sempurna.

Melihatnya sedemikian cantik, tiba-tiba ada rasa tak nyaman menyusup di benakku. Entah sebuah pertanyaan atau penyesalan kah. Kenyataan bahwa ragaku tak seindah dia. Segala deskripsi tentang kecantikan yang selama ini didogmakan turun-temurun sama sekali tak ada padaku. Aku tidak tinggi dan sedikit gemuk. Kulitku pun tak putih. Rambutku sedikit bergelombang, tidak panjang lurus seperti Rania. Hidungku tak bisa dibilang mancung, sekali pun tidak pesek juga. Dan mataku biasa saja. Sama sekali tak ada yang istimewa padaku.

Oh… Betapa Tuhan pilih kasih. Kenapa segala keindahan dilimpahkan padanya. Dan seolah aku hanyalah sebuah perwujudan dari penciptaan-Nya yang ada semata agar orang-orang seperti Rania semakin nampak keindahannya.

Hatiku menjerit, “Cantikkah aku…………??!!!” Kenapa tak sedikit saja keindahan itu menyertai ragaku. Haruskah aku mengubah tubuhku di bagian ini dan bagian itu agar secantik Rania. Atau biarkan saja ada ku cukuplah sebagai pelengkap kecantikannya semata.

*******************************************************************************

 

Ada milyaran wanita di dunia ini yang memendam perasaan seperti itu di hati mereka. Melihat kenyataan bahwa dirinya tak memiliki ciri fisik yang cukup memadai untuk bisa dikatakan ‘cantik’. Tanpa disadari secara perlahan citra dirinya merontok, bahkan hancur terkeping. Potensi diri yang semestinya bisa dimunculkan, seketika itu menenggelamkan diri bahkan sebelum sempat digali.

Celakanya lagi mereka juga tak menyadari bahwa hal itu adalah sebuah bentuk pengingkaran atas anugrah yang telah Dia cipta untuknya. Betapa rasa syukur hanya tinggal wacana di mimbar2 ceramah. Betapa ke-aku-an diri telah menyirna di antara rasa rendah diri.

Lupakah mereka bahwa sejatinya DIRI KITA ADALAH SEBUAH MAHA KARYA…..?!